Langsung ke konten utama

Benarkah Konflik Iran-Saudi adalah Konflik Syi'ah-Sunni ?

Mengunjungi perpustakaan Universitas berlabel Islam, kudapati di dalamnya Iranian Corner dan Saudi Arabia Corner yang letaknya bersebelahan. Hal ini mengingatkanku pada konflik antara Iran dan Saudi Arabia.
Barangkali sudah dari dulu, Iran dan Saudi bersaing dalam hal apapun, termasuk dalam hal kerja samanya dengan Indonesia.

Membaca buku-buku didalamnya saya merekam percakapan pemuda-pemudi yang tampak sedang berdiskusi;
“emangnya, Iran mesti Syi'ah ya kak?”
lalu dijawab; “pertanyaanmu sama dengan pertanyaan Saudi itu mesti Wahabi ya?”
Belum lama ini, Saudi menolak calon jamaah haji dari Iran karena, konon, Iran ngatain Saudi nggak becus ngurusin Haji. Coba seumpama yang ngatain Saudi adalah presiden Jokowi, apa mungkin calon jamaah haji dari Indonesia bakal ditolak? Apa mungkin Raja Saudi bakal bilang; “awas kamu kalau ngatain aku nggak becus ngurusin haji, Jangan harap jamaah haji dari negaramu bisa menginjakkan kaki di Saudiku”

Banyak media mewacanakan bahwa konflik Iran-Saudi adalah konflik Syi'ah-Sunni, padahal jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya akan lebih tepat jika dikatakan bahwa konflik Iran-Saudi adalah konflik Syi'ah–Khawarij. Di media-media berbahasa Indonesia pun sering kita temui tentang wacana–wacana kesesatan Syi'ah dan kekafiran Syi'ah tanpa tahu apa itu Syi'ah apa itu Khawarij?
jika tak memiliki sangu Epistemologi, dan hendak berguru soal Agama, sebaiknya tak berguru pada Google karena Google hanya mesin yang tak memiliki ruh.

Khawarij secara bahasa artinya 'mereka yang keluar', musuh bebuyutan orang Syi'ah itu Khawarij, bukan Sunni. Karakter orang-orang Khawarij itu baduwi alias anti dialog dan dialektika. Bagi Khawarij beradu argumen dengan dengan orang-orang yang telah diyakini kekafirannya adalah sia-sia. “tak ada hakim kecuali Allah” -yang menjadi slogan mereka benar-benar menjadi senjata ampuh untuk menolak potensi kebenaran dari pihak lain.
Khawarij meyakini bahwa muslim yang melakukan dosa besar / alkabair adalah murtad atau keluar dari Islam. Mereka pun mulai mengafirkan setiap pendosa yang berujung pada penghalalan darah atas jiwa.

Mazhab-mazhab pun beranak pinak setiap masa, di antara Khawarij dan Syiah ada juga Sunni yang katanya paling moderat dalam menimbang segala persoalan. Lalu, apa beda Khawarij dengan Wahabi? Wahabi itu cucunya Khawarij, sama-sama lahir di Nejd, salahsatu kawasan di Saudi Arabia.

Namun, mazhab tetaplah mazhab. Mazhab itu sama dengan ideologi. Sebagaimana dikatakan Marx bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, Ideologi membawa kita bergerak dalam relasi yang tak nyata tapi seakan nyata. Ideologi itu semacam kepercayaan yang tertanam tanpa disadari. Kita tidak ingat siapa yang menjelaskan cara berpikir yang kita pakai sekarang dan mengapa cara itu yang kita gunakan. Dan aturan-aturan yang tidak dapat ditemukan dasar-dasar Epistemologisnya itulah yang disebut Ideologi.

Pada masa Abbasiyah terjadi gerakan penerjemahan naskah Yunani secara besar-besaran ke dalam bahasa Arab, dari terjemahan tersebut muncullah metode-metode baru dalam memproduksi ilmu pengetahuan. Mereka (para ilmuwan) menggunakan ilmu Logika sebagai landasan untuk membuat teori-teori Ushul seperti Ushuluddin, Ushulfiqh dan Ushulnahwu , bahkan ilmu-ilmu tentang cara men-takhrij hadis pun adalah disiplin ilmu yang ilmiyah alias bisa diuji kebenarannya secara Epistemologi. Walaupun demikian, mereka tidak melulu mendapatkan pengetahuan tentang ilmu-ilmu melalui penerjemahan karya-karya Yunani. Ilmuwan-ilmuwan yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran besar seperti Ibnu Sina, Al-biruni dan Al-razi juga berasal dari Iran yang katanya Syi'ah itu.

Mau ikut-ikutan ideologi Baduwi atau sebaliknya itu soal selera, tapi jika tak mau mengakui kontribusi keilmuan orang-orang Iran, apa yang bisa kita banggakan sebagai orang Timur yang berbudaya dan berperadaban ini kepada Barat, toh Nabi sendiri pernah bersabda;
“Orang Arab tidak lebih unggul daripada orang non Arab dan orang non Arab tidak lebih unggul daripada orang Arab kecuali dengan ketakwaannya” ~(H.R. Ahmad)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU - Muhammadiyah

Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah. tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan ekskul pake pelajaran diniyah je.) Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*) Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjema...

Cah Ayu

Salahsatu ciri orang² Jogja itu suka berbasa-basi. Orang² Jogja biasa memanggil anak gadis dengan sebutan 'cah ayu', meskipun yg disebut 'cah ayu' itu nggak ayu² banget (meskipun yg dipanggil cah ayu itu berdada kurang menonjol dan kurang pandai berpupur gincu). Nampaknya orang² Jogja sudah menanamkan 'pede education' sejak dini. Mereka tidak menganggap yg satu memenuhi kriteria cantik dan yg lain tidak, karena setiap gadis adalah 'cah ayu' bagi mereka. Ayu adalah cantik. Wan ita mana sih yg tidak senang disebut cantik ? wanita manapun pasti senang disebut cantik, bahkan banyak wanita rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan predikat cantik. lantas, apakah dengan kecantikan kita mampu menaklukkan segalanya ? sepertinya tidak,. meminjam kata² Agus Mulyadi; "Lhawong Dian Sastro yg cantiknya begitu luar biasa saja masih dicampakkan sama Rangga kok, opomaneh kowe mblo..mblo.." hal ini menunjukkan, kecantikan seorang wanit...

Dulu Ku Pernah

dulu ku pernah... jadi buruh, pulang kerja kemaleman dan menangys di depan pintu kosan yang terkoentji, lalu ku lompat pagar sambil menahan luka. Jauh di lubuk hati ku ingin bertanya; "saat perempuanmu terluka, kemana aja kamu mas?", tapi ku pun tak tahu harus bertanya pada siapa dan ku pun tak punya nyali kerana setelah 'ngaca, ku pun tak berhak bertanya-tanya. lalu ku pun menunggu..., menunggu toekang koentji untuk membuka hati. Tapi membuka hati... membuka hati tak semudah membuka anu, kecuali jika kamu keras kepala dan bersedia mengetuknya berkali-kali. dulu ku pernah... merindukan pernikahan sebagaimana yang lain. tapi sekarang... sekarang kuingin jadi sales dandang saja. Dan buat apa..., buat apa ente bangga...buat apa ente bangga karena ente cendekiawan? (-minjem CakNun-) bangga karena ente mentri ? karena ente konglomerat ? dosen, ulama', sastrawan, kiai, dll. dsb. sementara puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manu...