Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan
hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah.
tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU
dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi
membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan
ekskul pake pelajaran diniyah je.)
Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*)
Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjemah al-Mulk, sambil terbata-bata sy malah menganalogikan lafal 'tabaarak' pada wazan 'tafa'ala'. sy benar² ndak tau kalo lafal 'tabaarak' itu artinya 'Mahasuci Allah'. pas ditanya hafalan alquran, sy mengaku gakpunya hafalan, tapi sy ceritakan pada interviewer kalo sy suka baca Yasin, Almulk, Alwaqi'ah, dan Alkahfi berkali². Kemudian sy disodorin kitab Bulughulmaram sama Riyadhussholihin, sy ditanya mana yg pernah kamu pelajari? , sy reflek ngaku 'Bulughulmaram', lalu ditanya 'kamu bisa suruh ngajar ini?' -Bisa pak. 'Bab pertama tentang apa?' -tentang Thoharoh. 'kalo kamu ndak paham isinya gimana?' -kan ada syarahnya pak., lalu interview berakhir begitu saja, mereka tidak menanyakan soal akidah, padahal peserta sebelumnya adalah mbak² bercadar, ia ditanya soal akidah. soal akidah, dulu sy pernah belajar Aqidatul awam, Jawahirul kalamiyah hingga Kifayatul awam. tapi yasudahlah, barangkali soal akidah memang nisbi. barangkali akidahnya mbak² Jilbab Syar'i berbeda dengan akidahnya mbak² Jilbab Halal.
akhirnya, sy pulang jalan kaki dari daerah Baki-Sukoharjo sampe Solo karna memang akses kendaraan umum sangat sulit. ditengah perjalanan sepatuku jebol, akhirnya sy membeli sendal jepit seharga limaribu rupiah, dan sy harus menyisakan uang untuk naik bus dan naik Prameks.
Ada penyesalan mendalam 'kenapa dari dulu sy tidak pernah jadi murid yang baik dan patuh pada segala hal yg formal dan institusional. sy baru menyadari bahwa Hidup ini berat dan butuh orang yang cakap, percayadiri dan terampil dalam menghadapi hidup.
Waktu ada Jobfair di UGM, rata² yg dibutuhkan ya anak teknik, anak sastra mah apa atuh?, cuma setitik tepung di jagad tak berdinding ini.
Sejak jadi mahasiswa sampai sekarang, sy ndak pernah punya pekerjaan yg mbois (kalo ndak mbabu ya ngespege) tapi jika merasa tertindas untuk menghibur diri, sy ingat² syi'irnya gusdur ~Senajan asor tata zohire ananging mulya maqom drajate. barangkali cuma gusDur yg paham, gimana rasanya jadi orang kecil yg disepelekan.
ditambah lagi...
tak hanya sekali-duakali sy dapat stereotipe Liberal karena sekolah di UIN. sy pernah juga dapat stereotipe Muhammadiyin karna lama tinggal diJogja tak pulang². barangkali benar kata mas Iqbal.: "Waktu demi waktu telah membentuk kita jadi pribadi² yg keminter (alias merasa paling pinter), memandang seolah diri sendiri sudah menguasai segudang ilmu hanya dengan berbekal mondok di pesantren Kiyai Google yg pada ujungnya menjadi manusia yg sigap dan enteng hati dalam menghakimi".
begini lho mbak,mas.., kami belajar Ta'wil, Ta'lil, Ushuluddin dll.dsb. itu bukan untuk menjadi Liberal tapi untuk menambah iman lewat ilmu. bukankah memadukan antara ilmu dan agama sudah menjadi simbol ayat pertama yg turun pada Nabi Muhammad? Iqra' bi ismi rabbik. Iqra' adalah simbol agama dan bi ismi rabbik adalah simbol agama. bukankah ilmu dan agama sama² bertujuan untuk mencari kebenaran?.
Orang² sekuler menganggap kebenaran agama tak dapat disatukan dg kebenaran ilmu pengetahuan. Orang² literalis pun menganggap kebenaran hanya milik kitab suci, segala sesuatu yg tidak sesuai dengan kitab suci adalah salah, mereka harus dibom se-modyar²nya.
jadi, moral of the story-nya adalah, terlalu literalis atau terlalu sekuler dua²nya tak baik bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dunia ini luas gaes... terlalu sempit jika cara memandang kita hanya dengan cara yg itu² sahaja.
wallahu a'lamu
Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*)
Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjemah al-Mulk, sambil terbata-bata sy malah menganalogikan lafal 'tabaarak' pada wazan 'tafa'ala'. sy benar² ndak tau kalo lafal 'tabaarak' itu artinya 'Mahasuci Allah'. pas ditanya hafalan alquran, sy mengaku gakpunya hafalan, tapi sy ceritakan pada interviewer kalo sy suka baca Yasin, Almulk, Alwaqi'ah, dan Alkahfi berkali². Kemudian sy disodorin kitab Bulughulmaram sama Riyadhussholihin, sy ditanya mana yg pernah kamu pelajari? , sy reflek ngaku 'Bulughulmaram', lalu ditanya 'kamu bisa suruh ngajar ini?' -Bisa pak. 'Bab pertama tentang apa?' -tentang Thoharoh. 'kalo kamu ndak paham isinya gimana?' -kan ada syarahnya pak., lalu interview berakhir begitu saja, mereka tidak menanyakan soal akidah, padahal peserta sebelumnya adalah mbak² bercadar, ia ditanya soal akidah. soal akidah, dulu sy pernah belajar Aqidatul awam, Jawahirul kalamiyah hingga Kifayatul awam. tapi yasudahlah, barangkali soal akidah memang nisbi. barangkali akidahnya mbak² Jilbab Syar'i berbeda dengan akidahnya mbak² Jilbab Halal.
akhirnya, sy pulang jalan kaki dari daerah Baki-Sukoharjo sampe Solo karna memang akses kendaraan umum sangat sulit. ditengah perjalanan sepatuku jebol, akhirnya sy membeli sendal jepit seharga limaribu rupiah, dan sy harus menyisakan uang untuk naik bus dan naik Prameks.
Ada penyesalan mendalam 'kenapa dari dulu sy tidak pernah jadi murid yang baik dan patuh pada segala hal yg formal dan institusional. sy baru menyadari bahwa Hidup ini berat dan butuh orang yang cakap, percayadiri dan terampil dalam menghadapi hidup.
Waktu ada Jobfair di UGM, rata² yg dibutuhkan ya anak teknik, anak sastra mah apa atuh?, cuma setitik tepung di jagad tak berdinding ini.
Sejak jadi mahasiswa sampai sekarang, sy ndak pernah punya pekerjaan yg mbois (kalo ndak mbabu ya ngespege) tapi jika merasa tertindas untuk menghibur diri, sy ingat² syi'irnya gusdur ~Senajan asor tata zohire ananging mulya maqom drajate. barangkali cuma gusDur yg paham, gimana rasanya jadi orang kecil yg disepelekan.
ditambah lagi...
tak hanya sekali-duakali sy dapat stereotipe Liberal karena sekolah di UIN. sy pernah juga dapat stereotipe Muhammadiyin karna lama tinggal diJogja tak pulang². barangkali benar kata mas Iqbal.: "Waktu demi waktu telah membentuk kita jadi pribadi² yg keminter (alias merasa paling pinter), memandang seolah diri sendiri sudah menguasai segudang ilmu hanya dengan berbekal mondok di pesantren Kiyai Google yg pada ujungnya menjadi manusia yg sigap dan enteng hati dalam menghakimi".
begini lho mbak,mas.., kami belajar Ta'wil, Ta'lil, Ushuluddin dll.dsb. itu bukan untuk menjadi Liberal tapi untuk menambah iman lewat ilmu. bukankah memadukan antara ilmu dan agama sudah menjadi simbol ayat pertama yg turun pada Nabi Muhammad? Iqra' bi ismi rabbik. Iqra' adalah simbol agama dan bi ismi rabbik adalah simbol agama. bukankah ilmu dan agama sama² bertujuan untuk mencari kebenaran?.
Orang² sekuler menganggap kebenaran agama tak dapat disatukan dg kebenaran ilmu pengetahuan. Orang² literalis pun menganggap kebenaran hanya milik kitab suci, segala sesuatu yg tidak sesuai dengan kitab suci adalah salah, mereka harus dibom se-modyar²nya.
jadi, moral of the story-nya adalah, terlalu literalis atau terlalu sekuler dua²nya tak baik bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dunia ini luas gaes... terlalu sempit jika cara memandang kita hanya dengan cara yg itu² sahaja.
wallahu a'lamu
Komentar
Posting Komentar