Langsung ke konten utama

Surat Untuk Mas Jay

Jayadi kakakku...
adakah kau keberatan bila ku memanggilmu 'mas? , bukankah panggilan 'mas itu biasa saja, sebagaimana panggilan 'pak, 'tuan atau panggilan² yang lain. Kalau panggilan 'mas dariku membuat harimu bermekaran, aku akan berbahagia karena itu. tapi kalau ada yang tak suka dengan itu, akupun maklum.
Minggu ini kamu sedang membaca buku apa? kuharap, buku² bagus senantiasa menemanimu, atau mungkin sekarang sedang ada yang menemanimu? ah, kamu memang suka bermain tebak²an sampai² membuatku menebak-nebak tak karuan.
Oiya, lama sekali tak kuceritakan keadaanku, keadaanku masih baik seperti dahulu, hanya saja semakin kurus. aku memang suka lupa makan kalau lagi kerja, padahal kan makan dan kerja itu dua sejoli yang tak boleh pisahkan. Dulu aku cengeng dan sering menangis karena kecapaian bekerja, tapi lama² aku jadi terbiasa dengan kehidupan yang keras dan menu makan yang tak lebih dari tempe goreng dan sayur-mayur belaka.
Setiap aku mengeluhkan keadaan pada temanku, mereka hampir selalu memberi solusi "rabio! rabio!" seakan tak ada solusi lain selain rabi. Adasih yang mau datang melamar, tapi bagaimana aku bisa memastikan lalu menerima sementara hatiku masih terpaut padamu. aku tahu, laki² sangat benci pada penolakan dan akupun tak mau jadi perempuan takabbur, atau dikira takabbur gara² beginian (plis ini bukan takabbur, tapi tadabbur)
Setiap kali aku melihat mbak² cantik di mall, pikiranku selalu ingat kamu, pasti perempuanmu itu cuantik betul sampai² bisa membuat leher orang yang melihatnya jadi mluntir karena kecantikannya.
Semoga perasaanku tidak turun harga hanya karena kutuliskan.
Dari adikmu yang rela melahap mie rebus atau roti tawar bertabur gula saat lapar.
Maryati,
Jogja 17 Agustus 2018
18:43 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU - Muhammadiyah

Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah. tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan ekskul pake pelajaran diniyah je.) Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*) Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjema...

Cah Ayu

Salahsatu ciri orang² Jogja itu suka berbasa-basi. Orang² Jogja biasa memanggil anak gadis dengan sebutan 'cah ayu', meskipun yg disebut 'cah ayu' itu nggak ayu² banget (meskipun yg dipanggil cah ayu itu berdada kurang menonjol dan kurang pandai berpupur gincu). Nampaknya orang² Jogja sudah menanamkan 'pede education' sejak dini. Mereka tidak menganggap yg satu memenuhi kriteria cantik dan yg lain tidak, karena setiap gadis adalah 'cah ayu' bagi mereka. Ayu adalah cantik. Wan ita mana sih yg tidak senang disebut cantik ? wanita manapun pasti senang disebut cantik, bahkan banyak wanita rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan predikat cantik. lantas, apakah dengan kecantikan kita mampu menaklukkan segalanya ? sepertinya tidak,. meminjam kata² Agus Mulyadi; "Lhawong Dian Sastro yg cantiknya begitu luar biasa saja masih dicampakkan sama Rangga kok, opomaneh kowe mblo..mblo.." hal ini menunjukkan, kecantikan seorang wanit...

Dulu Ku Pernah

dulu ku pernah... jadi buruh, pulang kerja kemaleman dan menangys di depan pintu kosan yang terkoentji, lalu ku lompat pagar sambil menahan luka. Jauh di lubuk hati ku ingin bertanya; "saat perempuanmu terluka, kemana aja kamu mas?", tapi ku pun tak tahu harus bertanya pada siapa dan ku pun tak punya nyali kerana setelah 'ngaca, ku pun tak berhak bertanya-tanya. lalu ku pun menunggu..., menunggu toekang koentji untuk membuka hati. Tapi membuka hati... membuka hati tak semudah membuka anu, kecuali jika kamu keras kepala dan bersedia mengetuknya berkali-kali. dulu ku pernah... merindukan pernikahan sebagaimana yang lain. tapi sekarang... sekarang kuingin jadi sales dandang saja. Dan buat apa..., buat apa ente bangga...buat apa ente bangga karena ente cendekiawan? (-minjem CakNun-) bangga karena ente mentri ? karena ente konglomerat ? dosen, ulama', sastrawan, kiai, dll. dsb. sementara puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manu...