Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Untuk Mas Jay

Jayadi kakakku... adakah kau keberatan bila ku memanggilmu 'mas? , bukankah panggilan 'mas itu biasa saja, sebagaimana panggilan 'pak, 'tuan atau panggilan² yang lain. Kalau panggilan 'mas dariku membuat harimu bermekaran, aku akan berbahagia karena itu. tapi kalau ada yang tak suka dengan itu, akupun maklum. Minggu ini kamu sedang membaca buku apa? kuharap, buku² bagus senantiasa menemanimu, atau mungkin sekarang sedang ada yang menemanimu? ah, kamu mema ng suka bermain tebak²an sampai² membuatku menebak-nebak tak karuan. Oiya, lama sekali tak kuceritakan keadaanku, keadaanku masih baik seperti dahulu, hanya saja semakin kurus. aku memang suka lupa makan kalau lagi kerja, padahal kan makan dan kerja itu dua sejoli yang tak boleh pisahkan. Dulu aku cengeng dan sering menangis karena kecapaian bekerja, tapi lama² aku jadi terbiasa dengan kehidupan yang keras dan menu makan yang tak lebih dari tempe goreng dan sayur-mayur belaka. Setiap aku mengeluhkan keadaan pada t...
Postingan terbaru

HTI Intolerable

 “Meskipun kita semua bisa toleran terhadap perbedaan, bisakah toleran terhadap yang tidak toleran terhadap perbedaan?”  pinjam Seno Gumira Ajidarma.  Katanya, Demokrasi itu kafir., tapi pas ada orang yang kritis terhadap radikalisme berbasis agama, dianggap intoleran. Sementara toleransi sendiri itu produk demokrasi. Dan penghargaan terhadap toleransi berhubungan erat dengan kematangan demokrasi. Semakin demokratis suatu negara, semakin toleran juga dalam sikap dan pemikiran keagamaan. Radikalisme sektarian seperti HTI itu sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia Islam. Mereka lahir akibat ...

Cah Ayu

Salahsatu ciri orang² Jogja itu suka berbasa-basi. Orang² Jogja biasa memanggil anak gadis dengan sebutan 'cah ayu', meskipun yg disebut 'cah ayu' itu nggak ayu² banget (meskipun yg dipanggil cah ayu itu berdada kurang menonjol dan kurang pandai berpupur gincu). Nampaknya orang² Jogja sudah menanamkan 'pede education' sejak dini. Mereka tidak menganggap yg satu memenuhi kriteria cantik dan yg lain tidak, karena setiap gadis adalah 'cah ayu' bagi mereka. Ayu adalah cantik. Wan ita mana sih yg tidak senang disebut cantik ? wanita manapun pasti senang disebut cantik, bahkan banyak wanita rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan predikat cantik. lantas, apakah dengan kecantikan kita mampu menaklukkan segalanya ? sepertinya tidak,. meminjam kata² Agus Mulyadi; "Lhawong Dian Sastro yg cantiknya begitu luar biasa saja masih dicampakkan sama Rangga kok, opomaneh kowe mblo..mblo.." hal ini menunjukkan, kecantikan seorang wanit...

Ketidakpastian

Kehidupan manusia selalu berubah.~ kata Heraklitus. Sungai yang kita seberangi hari ini bukan sungai kemarin meski tampak sama, karena air yang membasahi kita di sungai kemarin entah dimana sekarang. Dalam reuni, boleh jadi kita berjumpa lagi dengan teman lama yg tidak menarik lagi, padahal dulu, waktu di sekolah ia menjadi primadona. atau boleh jadi, penghasilan kita minggu ini tak secukup penghasilan kita minggu lalu : sekarang bisa makan nasi padang, besok cuma bisa makan indomie, besoknya lagi cuma bisa minum air putih... atau boleh jadi..., mas² yang dulu pada masa PDKT tampak toleransi dan penuh pengertian tiba² berubah menjadi angkuh dan sengaja membiarkan jiwamu meronta dan cemburu, padahal kamunya sudah terlanjur terpesona dan diliputi rasa ingin memiliki, tapi dianya tetaap kekeuh, sengaja membiarkanmu mengejarnya; sementara di negri patriarkis kamu hanya panta s ngejar² kobutri dan mikrolet, bukan sopirnya. * tapi kok tiba² jadi kejar-kejaran gini? pi...

NU - Muhammadiyah

Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah. tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan ekskul pake pelajaran diniyah je.) Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*) Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjema...

Dulu Ku Pernah

dulu ku pernah... jadi buruh, pulang kerja kemaleman dan menangys di depan pintu kosan yang terkoentji, lalu ku lompat pagar sambil menahan luka. Jauh di lubuk hati ku ingin bertanya; "saat perempuanmu terluka, kemana aja kamu mas?", tapi ku pun tak tahu harus bertanya pada siapa dan ku pun tak punya nyali kerana setelah 'ngaca, ku pun tak berhak bertanya-tanya. lalu ku pun menunggu..., menunggu toekang koentji untuk membuka hati. Tapi membuka hati... membuka hati tak semudah membuka anu, kecuali jika kamu keras kepala dan bersedia mengetuknya berkali-kali. dulu ku pernah... merindukan pernikahan sebagaimana yang lain. tapi sekarang... sekarang kuingin jadi sales dandang saja. Dan buat apa..., buat apa ente bangga...buat apa ente bangga karena ente cendekiawan? (-minjem CakNun-) bangga karena ente mentri ? karena ente konglomerat ? dosen, ulama', sastrawan, kiai, dll. dsb. sementara puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manu...

oh God..

sepulang kerja, ku pergi ke sekolah. sesampai di sekolah seorang bu guru menemuiku lalu memanggil anak²; "Hanan, Hanin...ini ustazahnya sudah datang nak". (wuaduh jadi sungkan, dipanggil ustazah) padahal tadi di dapur saya manusia paling bodoh, tak pantaslah hamba yang bodoh ini di panggil ustazah, bukan maqomnya buk. Tadi di dapur saya newbie. mulai dari teknik mengiris, memotong, dan menggoreng semuanya salah, dan itu bikin lelah. belum lagi istilah bumbu² yang keminggris itu. semuanya asing di telinga dan kepala. Orang² kelas menengah itu mulai dari appetizer, maincourse sampe dessert semuanya dilahap habis. kadang mereka kulineran cuma agar dianggap keren. Sejujurnya makanan mereka itu aneh di lidah. Entahlah apa yang ada di pikiran nyonya² sosialita itu. jaman sekarang orang² pada sibuk foto sama makanan biar dikira foodie. tapi, sebenernya ku mau bilang kalo ku mulai lelah dengan kesunyian ini, teman²ku satu persatu memutuskan berumah tangga.dan kini hany...