Langsung ke konten utama

oh God..

sepulang kerja, ku pergi ke sekolah. sesampai di sekolah seorang bu guru menemuiku lalu memanggil anak²; "Hanan, Hanin...ini ustazahnya sudah datang nak". (wuaduh jadi sungkan, dipanggil ustazah) padahal tadi di dapur saya manusia paling bodoh, tak pantaslah hamba yang bodoh ini di panggil ustazah, bukan maqomnya buk. Tadi di dapur saya newbie. mulai dari teknik mengiris, memotong, dan menggoreng semuanya salah, dan itu bikin lelah. belum lagi istilah bumbu² yang keminggris itu. semuanya asing di telinga dan kepala.
Orang² kelas menengah itu mulai dari appetizer, maincourse sampe dessert semuanya dilahap habis. kadang mereka kulineran cuma agar dianggap keren. Sejujurnya makanan mereka itu aneh di lidah. Entahlah apa yang ada di pikiran nyonya² sosialita itu. jaman sekarang orang² pada sibuk foto sama makanan biar dikira foodie.
tapi, sebenernya ku mau bilang kalo ku mulai lelah dengan kesunyian ini, teman²ku satu persatu memutuskan berumah tangga.dan kini hanya ada aku dan buku diary di ruangan ini. mungkin dulu ku menye², cengeng dan menyalahkan keadaan. tapi setelah dipikir ternyata Tuhan maha memberi kesempatan pada hati² yang terjajah.
kadang ku ingin nyinyir "emangnya yang berkeluarga aja yang bisa merasa sakinah.? yang jomlo juga bisa keleus." tapi jomlo tetaplah jomlo, lengkap dengan ke'freehatinan-nya. dikasih appetizer sama es teh saja sudah bahagia.
duh gusti..,kali ini hamba ndak mintak jodoh, hamba mau mintak diberi hati yang sufi saja. walopun di era medsos ini jamannya serba pencitraan disana dimari dan membuat yang sufi² pun terkesan pencitraan. tapi jika dan hanya jika sa adalah seorang pria, sungguh sa akan memilih wanita yang orientasi menservisnya tinggi daripada yang pintar membuat puisi berpupur gincu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU - Muhammadiyah

Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah. tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan ekskul pake pelajaran diniyah je.) Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*) Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjema...

Cah Ayu

Salahsatu ciri orang² Jogja itu suka berbasa-basi. Orang² Jogja biasa memanggil anak gadis dengan sebutan 'cah ayu', meskipun yg disebut 'cah ayu' itu nggak ayu² banget (meskipun yg dipanggil cah ayu itu berdada kurang menonjol dan kurang pandai berpupur gincu). Nampaknya orang² Jogja sudah menanamkan 'pede education' sejak dini. Mereka tidak menganggap yg satu memenuhi kriteria cantik dan yg lain tidak, karena setiap gadis adalah 'cah ayu' bagi mereka. Ayu adalah cantik. Wan ita mana sih yg tidak senang disebut cantik ? wanita manapun pasti senang disebut cantik, bahkan banyak wanita rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan predikat cantik. lantas, apakah dengan kecantikan kita mampu menaklukkan segalanya ? sepertinya tidak,. meminjam kata² Agus Mulyadi; "Lhawong Dian Sastro yg cantiknya begitu luar biasa saja masih dicampakkan sama Rangga kok, opomaneh kowe mblo..mblo.." hal ini menunjukkan, kecantikan seorang wanit...

Dulu Ku Pernah

dulu ku pernah... jadi buruh, pulang kerja kemaleman dan menangys di depan pintu kosan yang terkoentji, lalu ku lompat pagar sambil menahan luka. Jauh di lubuk hati ku ingin bertanya; "saat perempuanmu terluka, kemana aja kamu mas?", tapi ku pun tak tahu harus bertanya pada siapa dan ku pun tak punya nyali kerana setelah 'ngaca, ku pun tak berhak bertanya-tanya. lalu ku pun menunggu..., menunggu toekang koentji untuk membuka hati. Tapi membuka hati... membuka hati tak semudah membuka anu, kecuali jika kamu keras kepala dan bersedia mengetuknya berkali-kali. dulu ku pernah... merindukan pernikahan sebagaimana yang lain. tapi sekarang... sekarang kuingin jadi sales dandang saja. Dan buat apa..., buat apa ente bangga...buat apa ente bangga karena ente cendekiawan? (-minjem CakNun-) bangga karena ente mentri ? karena ente konglomerat ? dosen, ulama', sastrawan, kiai, dll. dsb. sementara puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manu...