Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Cah Ayu

Salahsatu ciri orang² Jogja itu suka berbasa-basi. Orang² Jogja biasa memanggil anak gadis dengan sebutan 'cah ayu', meskipun yg disebut 'cah ayu' itu nggak ayu² banget (meskipun yg dipanggil cah ayu itu berdada kurang menonjol dan kurang pandai berpupur gincu). Nampaknya orang² Jogja sudah menanamkan 'pede education' sejak dini. Mereka tidak menganggap yg satu memenuhi kriteria cantik dan yg lain tidak, karena setiap gadis adalah 'cah ayu' bagi mereka. Ayu adalah cantik. Wan ita mana sih yg tidak senang disebut cantik ? wanita manapun pasti senang disebut cantik, bahkan banyak wanita rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan predikat cantik. lantas, apakah dengan kecantikan kita mampu menaklukkan segalanya ? sepertinya tidak,. meminjam kata² Agus Mulyadi; "Lhawong Dian Sastro yg cantiknya begitu luar biasa saja masih dicampakkan sama Rangga kok, opomaneh kowe mblo..mblo.." hal ini menunjukkan, kecantikan seorang wanit...

Ketidakpastian

Kehidupan manusia selalu berubah.~ kata Heraklitus. Sungai yang kita seberangi hari ini bukan sungai kemarin meski tampak sama, karena air yang membasahi kita di sungai kemarin entah dimana sekarang. Dalam reuni, boleh jadi kita berjumpa lagi dengan teman lama yg tidak menarik lagi, padahal dulu, waktu di sekolah ia menjadi primadona. atau boleh jadi, penghasilan kita minggu ini tak secukup penghasilan kita minggu lalu : sekarang bisa makan nasi padang, besok cuma bisa makan indomie, besoknya lagi cuma bisa minum air putih... atau boleh jadi..., mas² yang dulu pada masa PDKT tampak toleransi dan penuh pengertian tiba² berubah menjadi angkuh dan sengaja membiarkan jiwamu meronta dan cemburu, padahal kamunya sudah terlanjur terpesona dan diliputi rasa ingin memiliki, tapi dianya tetaap kekeuh, sengaja membiarkanmu mengejarnya; sementara di negri patriarkis kamu hanya panta s ngejar² kobutri dan mikrolet, bukan sopirnya. * tapi kok tiba² jadi kejar-kejaran gini? pi...

NU - Muhammadiyah

Hampir semua sekolah branded berkualitas di Jawatimur milik NU dan hampir semua sekolah branded berkualitas di Jogja milik Muhammadiyah. tapi orang² yang maqomnya sudah 'nganu itu tidak lagi mem-beda²kan NU dan Muhammadiyah atau orang² yang maqomnya sudah nganu itu.. tidak lagi membeda²kan Madrasah diniyah dan Ekskul. (lha wong biasa ngisi kegiatan ekskul pake pelajaran diniyah je.) Bagi sahaya, Jogja itu benar² kota pendidikan, kota yang anak² mudanya trengginas dalam belajar. Jogja adalah manifestasi dari Ta'limul muta'allim. begitu juga Jawatimur, Jawatimur itu orang²nya punya banyak potensi. (potensi untuk dijadikan istri misalnya..*) Beberapa waktu lalu sy masih medioker, merasa bahwa berbekal Nahwu-Sharaf yg sy pelajari, sy pasti bisa menerjemah. nyatanya? Nothing. sy ndak ada apa²nya. waktu itu sy mengikuti tes jadi guru Agama di sekolah Insan Cendekia -milik ICMI- sy ditanya punya hafalan berapa juz, lalu disuruh nerjemah, waktu itu sy disuruh nerjema...

Dulu Ku Pernah

dulu ku pernah... jadi buruh, pulang kerja kemaleman dan menangys di depan pintu kosan yang terkoentji, lalu ku lompat pagar sambil menahan luka. Jauh di lubuk hati ku ingin bertanya; "saat perempuanmu terluka, kemana aja kamu mas?", tapi ku pun tak tahu harus bertanya pada siapa dan ku pun tak punya nyali kerana setelah 'ngaca, ku pun tak berhak bertanya-tanya. lalu ku pun menunggu..., menunggu toekang koentji untuk membuka hati. Tapi membuka hati... membuka hati tak semudah membuka anu, kecuali jika kamu keras kepala dan bersedia mengetuknya berkali-kali. dulu ku pernah... merindukan pernikahan sebagaimana yang lain. tapi sekarang... sekarang kuingin jadi sales dandang saja. Dan buat apa..., buat apa ente bangga...buat apa ente bangga karena ente cendekiawan? (-minjem CakNun-) bangga karena ente mentri ? karena ente konglomerat ? dosen, ulama', sastrawan, kiai, dll. dsb. sementara puncak pelajaran dan ujian hidup adalah bagaimana lulus menjadi manu...

oh God..

sepulang kerja, ku pergi ke sekolah. sesampai di sekolah seorang bu guru menemuiku lalu memanggil anak²; "Hanan, Hanin...ini ustazahnya sudah datang nak". (wuaduh jadi sungkan, dipanggil ustazah) padahal tadi di dapur saya manusia paling bodoh, tak pantaslah hamba yang bodoh ini di panggil ustazah, bukan maqomnya buk. Tadi di dapur saya newbie. mulai dari teknik mengiris, memotong, dan menggoreng semuanya salah, dan itu bikin lelah. belum lagi istilah bumbu² yang keminggris itu. semuanya asing di telinga dan kepala. Orang² kelas menengah itu mulai dari appetizer, maincourse sampe dessert semuanya dilahap habis. kadang mereka kulineran cuma agar dianggap keren. Sejujurnya makanan mereka itu aneh di lidah. Entahlah apa yang ada di pikiran nyonya² sosialita itu. jaman sekarang orang² pada sibuk foto sama makanan biar dikira foodie. tapi, sebenernya ku mau bilang kalo ku mulai lelah dengan kesunyian ini, teman²ku satu persatu memutuskan berumah tangga.dan kini hany...

Chef

Seorang yang terdidik pernah berkata padaku “orang pintar itu kerjanya pakai otak, bukan pakai otot”. Dalam hati kuingin mengumpat “otak, otak gundulem ambyar. jal nyambutgaweo nganggo ilmumu sing apriori kui, jal au pengen reti” Waktu SD, barangkali kita sering ditanya bu guru “what do you want to be when you grow up? ”. Satu dekade lalu, jawabannya berfariasi dari pilot hingga presiden, dulu, cita²ku sederhana saja, ingin jadi istri soleha, tapi berhubung jomlonya terlanjur kelamaan dan sempet gapunya cita² juga, tiba² kuingin jadi tukang masak saja, ndilalahnya salah satu profesi populer di mata anak² kini adalah chef. Tapi opo ya mesthi ? Yen wong nyambut gawe ki pikirane gur duniawi thok?. Duhmas, lebibaik diri ini berada didapur sambil mengingat Tuhan, daripada berada di masjid sambil mengingat-ngingat sendalku. Tapi tak bisa dipungkiri, media berkontribusi kuat memunculkan ‘cooking & dining’ menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Begitu banyak program ku...

Kafa'ah

Sebenernya, masih ada rencana buat nulis yang sedikit berbobot biar anu, biar laku, tapi dengan isi kepala yang bobotnya kurang seperempat, jadi ya maklum kalo isinya bernada sedikit curcol. Tapi ga ada maksud apa² sih, kecuali untuk mengkomunikasikan perasaannya mba Sukini. Pun, jika ujung²nya yang terjadi hanya komunikasi sepihak, setidaknya mba Sukini merasa sedikit lega, ada yang menyuarakan isi hatinya. Jadi, di jaman yang serba gampang ini, masih ada sesuatu yang sangat sulit didapat, yaitu kepastian, entah itu kepastian dari mas Sukina atau itu kepastian bahwa Sukini tetap bisa makan nasi Padang untuk esok dan seminggu kedepan atau justru ganti indomie. Dalam ketidakpastian itu, Sukini telah menghabiskan banya fulus, waktu dan tenaganya untuk menjadi orang lain. Ketika djatoeh tjinta Sukini selalu ingin menjadi seperti mba matsna, mba tsulatsa, atau mba rubaa'. Padahal bisa jadi Sukini adala nona manis yang sangat laik diperhitungken, tapi tetap saja Sukini i...