Sebenernya, masih ada rencana buat nulis yang sedikit berbobot biar anu,
biar laku, tapi dengan isi kepala yang bobotnya kurang seperempat, jadi
ya maklum kalo isinya bernada sedikit curcol. Tapi ga ada maksud apa²
sih, kecuali untuk mengkomunikasikan perasaannya mba Sukini. Pun, jika
ujung²nya yang terjadi hanya komunikasi sepihak, setidaknya mba Sukini
merasa sedikit lega, ada yang menyuarakan isi hatinya.
Jadi, di jaman yang serba gampang ini, masih ada sesuatu yang sangat sulit didapat, yaitu kepastian, entah itu kepastian dari mas Sukina atau itu kepastian bahwa Sukini tetap bisa makan nasi Padang untuk esok dan seminggu kedepan atau justru ganti indomie. Dalam ketidakpastian itu, Sukini telah menghabiskan banya fulus, waktu dan tenaganya untuk menjadi orang lain. Ketika djatoeh tjinta Sukini selalu ingin menjadi seperti mba matsna, mba tsulatsa, atau mba rubaa'. Padahal bisa jadi Sukini adala nona manis yang sangat laik diperhitungken, tapi tetap saja Sukini ingin menjadi seperti mba matsna, mba tsulatsa atau mba rubaa', tapi begitulah perempuan, selalu rumit kalau urusan membuka dan menutup hati. Sekalinya Sukina berhasil masup ke hati Sukini, maka kunci gembok hatinya akan menjadi milik Sukina selamanya.*Eaaaa.. ,jadi jangan main² yes, kalau mau main² di taman aja, jangan disini, kata Sukini sambil menepuk dada pake jari telunjuk.
Barangkali bagi Sukina, memilih pasangan tak selalu sama dengan memilih baju di awul². Ada baju unik, warnanya bagus dan ia suka, tapi sayangnya kebesaran, jadi masih perlu dipermak lagi agar sesuai dengan tubuhnya. Tapi tidak begitu untuk urusan jodho, ada nona manis, unyu² baik hati tapi ng.. ng.. nganu je. *apa juga bisa dipermak seperti baju biar pas ? Sungguh, memilih jodho memang tak semudah memilih baju di awul².
Dulu, waktu di pesantren, salah satu yang bikin kita trengginas mengaji adala bab Nikah. Kalo pas ngebahas nikah, yang biasanya ngantukan mendadak jadi ga ngantukan lagi.
Dalam bab nikah, soal pilih memilih pasangan ada anjuran untuk sesuai kafa'ah, tapi barangkali kafa'ah tidak bermaksud untuk memarjinalken seseorang, bahwa yang satu memenuhi kriteria solehah dan yang lain tidak, atau yang satu memenuhi kriteria santri dan yang lain tidak. Kafa'ah hanya hendak membantu meminimalisir rasa rumangsa dan ngrumangsani pemuda-pemudi pengen nikah yang sadar kelas.
Maka kafa'ah dibagi menjadi dua; jika kafa'ah yang pertama adala pertimbangan soal kedudukan, nasab, akhlak dan harta, maka kafa'ah yang kedua itu pertimbangan soal keberagamaan, akhlak, keistiqomahan dan kebaikan. Pilih² pasangan pakai ukuran kafa'ah yang pertama atau yang kedua itu semata hanya soal selera.
Tapi sungguh ga ada maksud, ga ada maksud buat jadi cewe bawel yang minta dinikahin melulu. Hanya peduli aja, peduli terhadap jomlo² kangen jodho, kalo gamau dipeduliken ya ngapapa. Ngga maksa , karena jomlo itu memang selalu menampilken citra diri yang kuat dan tida menye², tapi di lubuk hati sebenernya mereka itu rapuh, lebih rapuh dari rambut yang keramasnya tidak pake Pantene.
Jadi, di jaman yang serba gampang ini, masih ada sesuatu yang sangat sulit didapat, yaitu kepastian, entah itu kepastian dari mas Sukina atau itu kepastian bahwa Sukini tetap bisa makan nasi Padang untuk esok dan seminggu kedepan atau justru ganti indomie. Dalam ketidakpastian itu, Sukini telah menghabiskan banya fulus, waktu dan tenaganya untuk menjadi orang lain. Ketika djatoeh tjinta Sukini selalu ingin menjadi seperti mba matsna, mba tsulatsa, atau mba rubaa'. Padahal bisa jadi Sukini adala nona manis yang sangat laik diperhitungken, tapi tetap saja Sukini ingin menjadi seperti mba matsna, mba tsulatsa atau mba rubaa', tapi begitulah perempuan, selalu rumit kalau urusan membuka dan menutup hati. Sekalinya Sukina berhasil masup ke hati Sukini, maka kunci gembok hatinya akan menjadi milik Sukina selamanya.*Eaaaa.. ,jadi jangan main² yes, kalau mau main² di taman aja, jangan disini, kata Sukini sambil menepuk dada pake jari telunjuk.
Barangkali bagi Sukina, memilih pasangan tak selalu sama dengan memilih baju di awul². Ada baju unik, warnanya bagus dan ia suka, tapi sayangnya kebesaran, jadi masih perlu dipermak lagi agar sesuai dengan tubuhnya. Tapi tidak begitu untuk urusan jodho, ada nona manis, unyu² baik hati tapi ng.. ng.. nganu je. *apa juga bisa dipermak seperti baju biar pas ? Sungguh, memilih jodho memang tak semudah memilih baju di awul².
Dulu, waktu di pesantren, salah satu yang bikin kita trengginas mengaji adala bab Nikah. Kalo pas ngebahas nikah, yang biasanya ngantukan mendadak jadi ga ngantukan lagi.
Dalam bab nikah, soal pilih memilih pasangan ada anjuran untuk sesuai kafa'ah, tapi barangkali kafa'ah tidak bermaksud untuk memarjinalken seseorang, bahwa yang satu memenuhi kriteria solehah dan yang lain tidak, atau yang satu memenuhi kriteria santri dan yang lain tidak. Kafa'ah hanya hendak membantu meminimalisir rasa rumangsa dan ngrumangsani pemuda-pemudi pengen nikah yang sadar kelas.
Maka kafa'ah dibagi menjadi dua; jika kafa'ah yang pertama adala pertimbangan soal kedudukan, nasab, akhlak dan harta, maka kafa'ah yang kedua itu pertimbangan soal keberagamaan, akhlak, keistiqomahan dan kebaikan. Pilih² pasangan pakai ukuran kafa'ah yang pertama atau yang kedua itu semata hanya soal selera.
Tapi sungguh ga ada maksud, ga ada maksud buat jadi cewe bawel yang minta dinikahin melulu. Hanya peduli aja, peduli terhadap jomlo² kangen jodho, kalo gamau dipeduliken ya ngapapa. Ngga maksa , karena jomlo itu memang selalu menampilken citra diri yang kuat dan tida menye², tapi di lubuk hati sebenernya mereka itu rapuh, lebih rapuh dari rambut yang keramasnya tidak pake Pantene.
Komentar
Posting Komentar