Seorang
yang terdidik pernah berkata padaku “orang pintar itu kerjanya pakai
otak, bukan pakai otot”. Dalam hati kuingin mengumpat “otak, otak
gundulem ambyar. jal nyambutgaweo nganggo ilmumu sing apriori kui, jal
au pengen reti”
Waktu SD, barangkali kita sering ditanya bu guru “what do you want to be when you grow up? ”. Satu dekade lalu, jawabannya berfariasi dari pilot hingga presiden, dulu, cita²ku sederhana saja, ingin jadi istri soleha, tapi berhubung jomlonya terlanjur kelamaan dan sempet gapunya cita² juga, tiba² kuingin jadi tukang masak saja, ndilalahnya salah satu profesi populer di mata anak² kini adalah chef. Tapi opo ya mesthi ? Yen wong nyambut gawe ki pikirane gur duniawi thok?. Duhmas, lebibaik diri ini berada didapur sambil mengingat Tuhan, daripada berada di masjid sambil mengingat-ngingat sendalku.
Tapi tak bisa dipungkiri, media berkontribusi kuat memunculkan ‘cooking & dining’ menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Begitu banyak program kuliner anak di TV seperti Junior Master Chef, Junior Bake Off yang membius calon chef cilik dan orang tuanya. Demam memasak dan keinginan menjadi chef juga terlihat dengan bermunculannya ikon gaya hidup baru. Tak hanya Ariana Grande dan Adam Levin yang menjadi idola, Nigela Lawson dan Jamie Oliver kini menjadi sex symbol dengan kepiawaiannya menciptakan masakan yang terlihat mudah sekaligus menggairahkan, dan jika dan hanya jika bisa dilahirkan kembali, kuingin jadi anak tata boga sahaja, ha piye je, saben takon, seniorku malah nyeneni; “kowe ki iso kerjo ora e jum, isine mung tokan-takon, tokan-takon”.
Suatu hari, seorang teman mengeluarkan chuka wakame dari dalam chiller. “opo kui, sambel ta”-tanyaku, (taburan wijen diatasnya mirip dengan isi cabe.) “haha, sambel, kamu biyen jurusan opo e?”
“aku ra sekulah”-jawabku
Di hari yang lain, ku bertanya pada senior chef, “mas, pak mario itu, kalo belanja dimana e? ”- “di Kranggan”-“beli salmon juga di Kranggan?”-tanyaku lagi. “ya enggak lah, ini impor” (ternyata aku norak ya, boro² mau jadi chef, belajar plating dan ngegarnis aja ga nyeni, ga mbois blas)
Di hari yang lain lagi, dua orang temanku sedang eyel²an soal perbedaan butter dan mentega; yang satu bilang beda, yang satu bilang sama, ndilalahnya, pada suatu hari yang selo, ku jalan² ke pasar modern, ga sengaja ada Farah Quin sedang menjelasken perbedaan butter dan mentega; ku cuma ngebatin aja, kok ada ya orang secantik Farah Quin mau jadi orang dapur. Subhanawlaa..lelaki beruntung mana yang mendapatkannya.
Di hari yang lain, ku disuruh mengirisi iwak pitik oleh mbak² senior yang galaknya nauzubilla (emang ane syelama ini kerjanya disuru-suru). “kerjanya harus cepet”-kata dia.
tiba², sret.., pisau yang tajam itu mengiris jariku, dan anda tau? pisaunya orang kelas menengah itu, baru disentuh aja kulitmu bisa robek, dan rasanya jelas, perih banget, lebih perih daripada melihatmu mbribiki mbak² soleha akhir zaman di TL. Tapi bapak pernah bilang “apapun yang terjadi dalam hidupmu, nak, dasarnya- Lahaula walaaquwwata”, intinya, serahkan semua pada Allah. Sambil merenungi pesan bokap gue, ku menenangkan hati sambil lanjut bekerja.
Kini cita² jadi toekang masak hanya ada dalam angan semata. kuyaqin Tuhan menyiapkan yang terbaik bagiku.
Sebenernya, ku mau pesen aja, kalo makan di restoran kelas middle to up yang ada sertifikat halalnya ya gaes, jangan jilbab aja yang disertifikatin. Tapi kalo situ mau gaya²an biar dikira foodie, ya terserah. Yang jelas restoran kelas midle to up itu beda ama midle to low dari komposisinya. Tapi sungguh, secanggih-canggih ilmu kuliner, tetep aja kalah sama masakan pengantin baru yang lagi sregep²nya belajar masak.
Dear, handsome admirer.. If being in love is stupid, I would rather be stupid, but now, I don’t have any feeling in men.
Waktu SD, barangkali kita sering ditanya bu guru “what do you want to be when you grow up? ”. Satu dekade lalu, jawabannya berfariasi dari pilot hingga presiden, dulu, cita²ku sederhana saja, ingin jadi istri soleha, tapi berhubung jomlonya terlanjur kelamaan dan sempet gapunya cita² juga, tiba² kuingin jadi tukang masak saja, ndilalahnya salah satu profesi populer di mata anak² kini adalah chef. Tapi opo ya mesthi ? Yen wong nyambut gawe ki pikirane gur duniawi thok?. Duhmas, lebibaik diri ini berada didapur sambil mengingat Tuhan, daripada berada di masjid sambil mengingat-ngingat sendalku.
Tapi tak bisa dipungkiri, media berkontribusi kuat memunculkan ‘cooking & dining’ menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Begitu banyak program kuliner anak di TV seperti Junior Master Chef, Junior Bake Off yang membius calon chef cilik dan orang tuanya. Demam memasak dan keinginan menjadi chef juga terlihat dengan bermunculannya ikon gaya hidup baru. Tak hanya Ariana Grande dan Adam Levin yang menjadi idola, Nigela Lawson dan Jamie Oliver kini menjadi sex symbol dengan kepiawaiannya menciptakan masakan yang terlihat mudah sekaligus menggairahkan, dan jika dan hanya jika bisa dilahirkan kembali, kuingin jadi anak tata boga sahaja, ha piye je, saben takon, seniorku malah nyeneni; “kowe ki iso kerjo ora e jum, isine mung tokan-takon, tokan-takon”.
Suatu hari, seorang teman mengeluarkan chuka wakame dari dalam chiller. “opo kui, sambel ta”-tanyaku, (taburan wijen diatasnya mirip dengan isi cabe.) “haha, sambel, kamu biyen jurusan opo e?”
“aku ra sekulah”-jawabku
Di hari yang lain, ku bertanya pada senior chef, “mas, pak mario itu, kalo belanja dimana e? ”- “di Kranggan”-“beli salmon juga di Kranggan?”-tanyaku lagi. “ya enggak lah, ini impor” (ternyata aku norak ya, boro² mau jadi chef, belajar plating dan ngegarnis aja ga nyeni, ga mbois blas)
Di hari yang lain lagi, dua orang temanku sedang eyel²an soal perbedaan butter dan mentega; yang satu bilang beda, yang satu bilang sama, ndilalahnya, pada suatu hari yang selo, ku jalan² ke pasar modern, ga sengaja ada Farah Quin sedang menjelasken perbedaan butter dan mentega; ku cuma ngebatin aja, kok ada ya orang secantik Farah Quin mau jadi orang dapur. Subhanawlaa..lelaki beruntung mana yang mendapatkannya.
Di hari yang lain, ku disuruh mengirisi iwak pitik oleh mbak² senior yang galaknya nauzubilla (emang ane syelama ini kerjanya disuru-suru). “kerjanya harus cepet”-kata dia.
tiba², sret.., pisau yang tajam itu mengiris jariku, dan anda tau? pisaunya orang kelas menengah itu, baru disentuh aja kulitmu bisa robek, dan rasanya jelas, perih banget, lebih perih daripada melihatmu mbribiki mbak² soleha akhir zaman di TL. Tapi bapak pernah bilang “apapun yang terjadi dalam hidupmu, nak, dasarnya- Lahaula walaaquwwata”, intinya, serahkan semua pada Allah. Sambil merenungi pesan bokap gue, ku menenangkan hati sambil lanjut bekerja.
Kini cita² jadi toekang masak hanya ada dalam angan semata. kuyaqin Tuhan menyiapkan yang terbaik bagiku.
Sebenernya, ku mau pesen aja, kalo makan di restoran kelas middle to up yang ada sertifikat halalnya ya gaes, jangan jilbab aja yang disertifikatin. Tapi kalo situ mau gaya²an biar dikira foodie, ya terserah. Yang jelas restoran kelas midle to up itu beda ama midle to low dari komposisinya. Tapi sungguh, secanggih-canggih ilmu kuliner, tetep aja kalah sama masakan pengantin baru yang lagi sregep²nya belajar masak.
Dear, handsome admirer.. If being in love is stupid, I would rather be stupid, but now, I don’t have any feeling in men.
Komentar
Posting Komentar